Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Dasar Pendaki Gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Dasar Pendaki Gunung. Tampilkan semua postingan

Mengenal Tentang Metode SAR Gunung Hutan Indonesia

"AVIGNAM JAGAD SAMAGRAM". Semoga Selamatlah Alam Semesta". Merupakan motto atau semboyan dari BASARNAS (Badan SAR Nasional). 

Misi SAR Gunung Hutan merupakan misi pencarian dan penyelamatan yang membutuhkan suatu keahlian tertentu. Sudah tentu pada setiap kejadian orang hilang di gunung hutan, peran vital dari para penggiat olahraga alam bebas tak pernah dapat tergantikan.

Berbeda dengan penanganan kasus Misi SAR kebencanaan lainnya. Dimana semua unsur mulai dari instansi pemerintah, swasta, NGO, ormas, dapat terlibat dan turut berperan aktif pada operasi Misi SAR yang sedang dilaksanakan.

Pada satu sisi SAR Laut dan SAR Udara lebih mengedepankan penggunaan peralatan saat operasi SAR berlangsung. Dimana peran manusia sendiri tak lebih sebagai operator pengguna peralatan. Dapat di kata jenis SAR tersebut lebih berorientasi pada fungsi peralatan yang digunakan.

Namun SAR Gunung Hutan justru lebih menekankan pada peran rescuer itu sendiri. Pendekatannya lebih ke human expertise dan value system. Keahlian dan nilai-nilai inilah yang menjadi basis pokok peran para penggiat olahraga alam bebas dalam Misi SAR Gunung Hutan menjadi tidak tergantikan. Pada umumnya setiap individu penggiat olahraga alam bebas sejak dari awal sudah memiliki pendidikan dan bekal mengenai :

  • Knowledege : Pengetahuan tentang aspek-aspek terkait dalam SAR
  • Attitude : Sikap mental serta siap berkorban dalam menolong sesama walau tanpa imbalan apapun juga, antara lain lebih ke panggilan jiwa, demi kemanusiaan belaka.
  • Skills : Bentuk dasar ketrampilan, atau knowledge yang diaplikasikan, sehingga terbentuk keahlian.
  • Habits : Ketrampilan, pengulangan dan sikap mental melahirkan sebuah kebiasaan, yang selalu aware dan allert ( peduli dan siaga ) terhadap semua bentuk bencana
  • Tools : Pemahaman tentang peralatan yang digunakan di semua medan operasi
  • Team work : Pemahaman bagaimana sebuah proses SAR gunung hutan di inisiasi, yang melibatkan sesama penggiat olahraga alam bebas, sekalipun dari organisasi yang berbeda.
Setiap usaha pencarian dan pertolongan, harus selalu mengedepankan aspek-aspek cepat, tepat, akurat, konseptual dan kontekstual. Dimana semua bentuk response atau tanggapan, harus selalu mengacu pada pemahaman diatas. Sebab jika tidak, maka operasi akan sia-sia, membuang waktu yang sangat berharga, karena hal itu bisa berarti hilangnya nyawa.

RESPONSE
Ketika berita musibah itu sampai ke telinga, maka sebuah tindakan dan pergerakan harus segera diinisiasi dan dilakukan. Semua berlomba dengan waktu, setiap detik menit jam dan hari, menjadi variabel penentu. Walau tetap berpegang teguh pada premis, bahwa kecepatan reaksi bukan datang dari ketergesaan, namun berupa reflek hasil latihan yang di ulang-ulang.

TIRED (Tim Rekontruksi Data)
Bertujuan menelusuri dan memvalidasi data yang masuk tadi. Data dan informasi menjadi sumber referensi. Sebuah keputusan dan kebijakan harus diambil semata berdasarkan pada data, yang tervaliadasi dengan baik dan benar, dan bukan semata hasil opini.

TIREC (Team Reaksi Cepat)
Terjun kelapangan dengan format “hasty search”. Atau pencarian segera, sesuai dengan skala kesiagaan dan kedaruratan. Bertugas menyusun berbagai kemungkinan kejadian yang dapat di rekontruksikan. Team ini punya keahlian dalam membaca jejak sang survivor. Bisa membedakan apakah survivor masih bertenaga, sudah payah lemas, sampai kemungkinan mengalami cedera. Semua berdasarkan pada setiap temuan dilapangan.

Bersamaan dengan itu, organisasi Misi SAR dibangun, berupa base camp yang umumnya terdekat dengan lokasi kejadian. Struktur organisasi SAR lengkap, mulai dari keberadaan SC, SMC, OSC, sampai regu regu e-SAR (explorer SAR).

Data lapangan, baik hasil penelusuran data umum, maupun kronologis, dikumpulkan dan diberi masukan berupa analisis. Sehingga memunculkan dugaan-dugaan yang harus diperhitungkan.

Kemudian ditentukan area prioritas (The most probable area) untuk dilakukan pencarian awal. Biasanya jenis peta yang digunakan adalah peta topografi, dimana luas dan kedalaman dapat digambarkan dengan lebih terukur, berdasarkan pada skala peta. Selanjutnya ditentukan wilayah pencarian yang harus disapu, atau batas karvak lengkap dengan koordinatnya, dan nantinya dibatasi oleh string-line dan taging.

Penugasan pada setiap team e-sar, dari SMC ke OSC, lalu disebar ke SRU, lengkap dengan metoda pencariannya. Diawali metode open-grid, atau jarak setiap personil SRU masih berjauhan dan bergerak paralel dengan kecepatan gerak yang sama. Dilapangan segala kemungkinan dapat terjadi. Mulai dari tingkat kesulitan medan, faktor cuaca, atau kemungkinan berhadapan dengan binatang buas.

Hasil dari penyapuan nantinya berupa prosentase Area-clearance. Atau seberapa prosen area yang tersebut sudah disapu dan dinyatakan bersih. Hasil temuan jejak dilapangan akan dilaporkan pada saat briefing dan evaluasi. Selanjutnya metoda berubah menjadi close-grid.

Pada area terbuka dan landai, sudah pasti lebih memudahkan saat pencarian. Tapi bila menghadapi area berupa jurang dan tegakan, metoda akan berubah menjadi vertical search.

Saat survivor ditemukan baik dalam kondisi hidup atau sudah tak bernyawa, bukan berarti masalah sudah selesai. Tugas team selanjutnya membuat perencanaan jalur evakuasi termudah ke tempat yang lebih aman, agar survivor dapat segera mendapatkan tindakan medis.

SAR GUNUNG HUTAN merupakan Misi Kemanusiaan. Sudah pasti ini perbuatan yang mulia dan bukan sebuah tugas yang mudah. Hanya mereka yang punya kesadaran jiwa sajalah yang berani mendedikasikan dirinya bagi keselamatan orang lain lain.

Evakuasi Survivor Dengan Menggunakan Tandu Darurat

Tujuan pembuatan tandu darurat adalah untuk mempercepat proses evakuasi survivor secara layak sebelum mendapatkan pertolongan dari tenaga medis.

Tandu darurat secara sederhana dapat di buat dari kayu atau bambu yang dirancang dengan menggunakan webbing. Yang terpenting adalah menguasai dua simpul yaitu simpul pangkal dan simpul jangkar dengan satu ikatan. Seandainya medan memiliki lintasan curam dan kecil, dapat membuat tandu dengan satu batang kayu.
ilustrasi evakuasi survivor dengan tandu darurat
Saat evakuasi jangan main asal angkat. Apabila survivor masih dalam keadaan sadar, ajak dia komunikasi. Tanyakan bagian mana yang dirasakan sakit atau mengalami cedera. Apabila di rasa perlu mencegah dari serangan hipotermia, selimuti tubuh survivor dengan sleeping bag.

Kalau bukan kita yang evakuasi ke lapangan, terus siapa???

Sudah pasti personal penggiat olahraga alam bebas yang dapat menembus belantara pegunungan harus memiliki standart ketrampilan evakuasi dan memahami teknik SAR agar tidak membahayakan keselamatan tim rescue maupun survivor.

Mengenal Definisi Perbedaan Mendasar Survival Dan Bushcraft

Secara umum pengertian survival adalah adalah teknik atau ilmu bertahan hidup dalam situasi kondisi tidak terduga dan tidak diinginkan. Misalnya ketika seseorang tersesat dalam hutan belantara karena sesuatu hal, maka orang tersebut dipaksa untuk dapat bertahan hidup. Teknik bertahan hidup dalam suatu kondisi tidak diinginkan itulah yang disebut survival.
Foto koleksi pribadi
Sedang secara umum definisi pengertian bushcraft sendiri adalah mempelajari suatu keahlian paling mendasar tentang cara bertahan hidup di alam bebas.

Bushcraft secara spesifik mempelajari seni dasar bertahan hidup di alam bebas dengan lebih mengedepankan teknik primitif secara natural. Diantaranya adalah seperti :

  • Seni cara mendapatkan air dan makanan
  • Seni membuat tempat berlindung (shelter)
  • Seni membuat api dengan memanfaatkan segala sesuatu yang tersedia di alam
  • Seni tentang navigasi berdasarkan tanda-tanda alam
  • Seni mempelajari jenis tanaman obat
  • Seni membuat peralatan bertahan hidup
Perbedaan mendasar antara survival dan bushcraft terletak pada teknologi peralatan dan perlengkapan yang digunakan. Dalam situasi survival, seorang survivor dapat menggunakan alat apapun, baik alat modern atau primitif.

Sedang pada bushcraft alat yang digunakan bersifat alami dan hanya semata untuk metode bertahan hidup di alam bebas yang selaras dengan teknik primitif. Jadi walaupun bushcraft masih termasuk bagian ilmu survival, namun dalam aplikasinya jelas terdapat perbedaan dengan survival. Dimana bushcraft lebih mengedepankan sebuah seni bertahan hidup di alam bebas secara alami dengan cara memanfaatkan semua sumber daya alam yang ada.

Menghitung Secara Sederhana Kalori Managemen Logistik Pendakian

Kemampuan menguasai managemen logistik pendakian merupakan hal vital. Terutama sekali jika medan trekking yang akan di jelajahi berat dengan durasi waktu panjang. Dalam managemen logistik selain menentukan jenis kebutuhan logistik, juga menghitung kebutuhan kalori dan nutrisi yang di perlukan tubuh selama kegiatan alam bebas.
Menghitung Kebutuhan Energi Berdasarkan (BMR) Basal Metabolic Rate
BMR atau Basal Metabolig Rate adalah energy minimal yang diperlukan dalam keadaan istirahat sempurna baik secara fisik maupun mental, berbaring tetapi tidak tidur disuhu ruangan 25 derajat celcius (Darwin, 1988:7)

Bagi seorang pendaki gunung, jumlah kebutuhan kalori dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti :

  • Jenis kelamin
  • Kondisi suhu dan cuaca pada daerah tujuan
  • Karakteristik medan

Rumus Menghitung BMR adalah :
Berat badan x 24 kalori

Misal : Berat badan 55 kg

Maka : 55 x 24 = 1320

Jumlah kalori perhari bisa ditentukan berdasarkan kelipatan BMR sebagaimana tabel berikut :
Aktivitas mountaineering termasuk katagori sangat berat. Maka jumlah kalori yang dibutuhkan perhari untuk seseorang pendaki dengan berat 55 kg adalah :

55 kg x 24 kalori = 1320 (BMR)
125% x 1320 (BMR) = 1650 kalori

Jadi total kebutuhan kalori perharinya adalah : 1320 + 1650 = 2970 kalori/hari

Dimana kebutuhan kalori laki-laki dan perempuan berbeda hal ini karena pada wanita jaringan lemak dibawah kulit lebih tebal sehingga pengeluaran proses tubuh menjadi lebih kecil.

Sebagai catatan yang perlu diperhatikan dalam memilih jenis logistik antara lain :

  • Perhatikan jumlah kalori dan komposisi gizi yang terkandung.
  • Ukurannya tidak besar, tidak mudah rusak dan tahan lama.
  • Mudah disajikan, sehingga hemat waktu, air dan bahan bakar.

Kunci Menghidari Disorientasi Arah Saat Trekking

Disorientasi arah akan fatal ketika pendaki tetap melanjutkan trekking tanpa berusaha orientasi medan sekitar, dan memutuskan tetap mengikuti jalur setapak yang salah di hadapannya.
Masalah disorientasi arah saat trekking dapat terjadi akibat dari berbagai faktor, seperti jarak pandang terbatas karena kabut, memaksa melanjutkan perjalanan saat malam, salah dalam menentukan jalur, mencoba mengambil jalur pintas, faktor ego dan merasa yakin pada kemampuan dirinya.

Disorientasi arah tersesat dapat terjadi pada siapapun, tidak terkecuali pendaki berpengalaman yang memiliki mendaki jam terbang tinggi. Karena itulah sangat dianjurkan mengapa saat turun kabut, atau sebelum memasuki belantara pegunungan yang asing, sebaiknya berhenti untuk orientasi medan. Kemudian silakan putuskan akan melanjutkan atau menunda trekking.

Kunci menghidari disorientasi arah adalah mengetahui posisi awal keberangkatan dan titik tujuan secara pasti sebelum memasuki belantara pegunungan. 
Ploting secara benar pada peta rute yang akan di jelajahi.

Enjoy your trip

Definisi Dan Pengertian Dasar Mountaineering

Definisi pengertian dari Mountaineering itu sendiri adalah suatu kegiatan olahraga alam bebas dalam bentuk perjalanan pendakian untuk mencapai puncak tertinggi dari suatu gunung. Mountaineering terbagi dan meliputi :
ilustrasi hill walking
Hill Walking
Kegiatan ini merupakan paling banyak dilakukan oleh para penggiat olahraga alam bebas berbasis pendakian dan penjelajahan gunung rimba, yaitu dengan cara melewati jalan setapak para pendaki mencapai puncak suatu gunung.
ilustrasi scrambling
Scrambling
Merupakan pendakian gunung dengan melewati berbagai adanya medan yang relatif sulit dilalui, sehingga terkadang diperlukan penggunaan peralatan khusus untuk dapat melaluinya. Hanya saja istilah scrambling itu sendiri mungkin masih kurang populer dikalangan penggiat olah raga alam bebas di Indonesia.
ilustrasi rock climbing
Rock Climbing
Merupakan kegiatan pendakian melalui tebing dengan kemiringan 70°, dimana bila berdasarkan pada pemakaian alat, maka dapat dibagi menjadi :

  • Free Climbing, yaitu memanjat bebas, akan tetapi masih mempergunakan alat sebagai pengaman.
  • Artificial Climbing, dimana dalam pemanjatan alat serta peralatan sifatnya masih mutlak dipergunakan dalam menambah ketinggian itu sendiri.
ilustrasi ice and snow climbing
Ice And Snow Climbing
Merupakan pendakian gunung dengan medan yang mempunyai karakteristik es serta bersalju. Dimana peralatan pendakian yang dipergunakan tentunya disesuaikan dengan standart karakteristik medan es dan salju.

Memprediksi Cuaca Dengan Mengamati Bentuk Awan

Dalam aktivitas mountaineering, kondisi cuaca sangat penting untuk diperhatikan. Di pegunungan, cuaca dapat berubah-ubah dengan sangat cepat tanpa dapat disadari tanda-tandanya.
Barometer digital pada jam casio protrek
Seorang navigator berpengalaman umumnya memiliki barometer untuk membantu membaca variasi tekanan udara. Jika tekanan udara dalam kondisi rendah biasanya akan terjadi badai atau hujan, sedangkan saat tekanan udara tinggi, kondisi wilayah tersebut dalam keadaan kering, tenang ataupun dingin.
Ketinggian, tipe dan jenis awan
Namun sebenarnya alam telah memberikan tanda tentang kondisi cuaca. Salah satunya adalah dengan mengamati bentuk awan.

Awan menjadi salah satu indikator paling baik untuk memprediksi cuaca. Tentunya harus mengetahui berbagai jenis awan yang ada. Berikut beberapa jenis awan yang perlu diketahui untuk dapat memprediksikan cuaca.
Awan Stratus
Awan Stratus
Merupakan jenis awan rendah. Berlapis-lapis tipis, mirip seperti lembaran dan berwarna abu-abu. Dapat menimbulkan gerimis. Kadang bentuknya bisa ditembus sinar matahari dan kadang tidak dapat ditembus. Tampak tebal serta kasar.

Jika menghiasi langit malam serta menutupi keindahan langit di pagi hari, biasanya beranjak siang mereka akan menghilang dan menghasilkan cuaca yang baik.
Awan Strato cumulus
Awan Strato Cumulus
merupakan awan rendah dan berbentuk seperti perca-perca atau lembaran. Warna awan ini adalah abu- abu namun terkadang putih atau tampak keputih-putihan.
Kadang terlihat berkumpul kadang terpisah. Biasanya hanya menghasilkan hujan ringan saja dan umumnya menjelang senja akan menghilang.
Awan Nimbostratus
Awan Nimbostratus
termasuk dalam awan rendah. Warna lapisannya gelap atau abu-abu. Awan ini bisa menjadi pertanda turunnya hujan. Bentuk awan ini abstrak.
Sinar matahari sangat sulit menembus karena ketebalannya. Awan ini bertanda hujan sedang terjadi. Jenisnya ada Nimbo stratus Virga, Nimbo stratus Praecipitatio, dan Nimbo stratus Pannus.
Awan Cumulus
Awan Cumulus
Awan Cumulus termasuk dalam jajaran awan perkembangan vertikal. Bentuknya berupa gumpalan-gumpalan putih yang serupa kapas. Jika awan cumulus terbentuk secara terpisah-pisa dengan ukuran yang relatif kecil, itu menandakan cuaca baik.
Namun jika gumpalannya besar dan warnanya agak gelap, bisa mendatangkan hujan yang sangat lebat. Awan Cumulus dibagi menjadi tiga jenis diantaranya yaitu Cumulus Congestus, Cumulus Humilis, dan Cumulus Mediocris.
Awan Cumulonimbus
Awan Cumulonimbus
Awan ini masuk kategori awan perkembangan vertikal. Jenis awan ini berkali-kali menjadi penyebab kecelakaan pesawat. Awan Cumulonimbus mampu menciptakan petir dan badai di dalamnya. Umumnya berbentuk menggumpal dan berwarna gelap.
Jika awan jenis ini muncul, kemungkinan besar akan bisa berpotensi pertanda hujan badai disertai angin kencang dan petir.
Awan Altocumulus
Awan Altocumulus
Awan Altocumulus berbentuk kecil-kecil tapi berjumlah banyak, serta saling bergerombol dengan jarak yang cukup dekat. Jenis awan Altocumulus merupakan awan menengah.
Kadang awan ini bisa terlihat seperti bola atau bahkan menggembung. Warnanya bisa jadi putih pucat atau ada sedikit abu-abu. Awan ini kebanyakan terdiri dari butiran es. Umumnya menandakan cuaca sangat cerah dan biasanya hadir setelah setelah badai.

Awan altocumulus ini mempunyai beragam jenis, diantaranya ada Alto cumulus translucidus, Alto cumulus opacus, Alto cumulus cumuloginitus, Alto cumulus castellatus, Alto cumulus lenticularis, Alto cumulus pilus, dan Alto cumulus Percipitans. Perbedaan jenis ini didasarkan pada bentuk, posisi, dan fungsi dari awan tersebut.
Awan Altostratus
Awan Altostratus
Awan altostratus digolongkan dalam kategori awan menengah. Bentuknya lembaran, namun kadang terlihat seperti berserat. Awan ini sangat luas dan sifatnya menyebar, terlihat tebal dan berwarna putih abu-abu.
Jika awan jenis ini semakin tebal dan menghitam, bersiaplah karena itu pertanda akan terjadi hujan gerimis atau hujan ringan, hujan sedang, ataupun hujan salju.
Awan Cirrostratus
Awan Cirrostratus
Jenis awan cirrostratus tergolong dalam kategori awan tinggi. Berwarna putih merata, tipis, halus, dan bisa menutupi sebagian ataupun seluruh langit. Biasanya awan ini menutupi matahari dan menghasilkan lingkaran cahaya indah.
Awan ini juga bisa menimbulkan halo, yaitu fenomena alam di mana matahari dan bulan terlihat pada garis yang jelas. Fenomena halo ini terlihat seperti seolah-olah matahari ada banyak
Awan Cirrocumulus
Awan Cirrocumulus
Awan Cirrocumulus ini termasuk pula dalam jajaran awan tinggi dan memiliki bentuk seperti ombak lautan atau seperti bulu domba. Bentuk awan ini tidak menyatu satu sama lain, melainkan terputus-putus.
Umumnya merupakan pertanda cuaca yang sangat cerah, dan biasanya akan menghilang ke langit biru yang cerah.Awan ini terdiri dari kristal es yang mempunyai bulatan-bulatan kecil.

Jenis jenis awan Cirrocumulus diantaranya ada Cirrocumulus Stratiformis, Cirrocumulus Lenticuralis, Cirrocumulus Castellanus, dan Cirrocumulus Floccus. Karakteristik dari awan Cirrocumulus ini yaitu tipis, bentuknya seperti perca yang berwarna putih, terputus-putus, mengandung banyak kristal es, terkadang terlihat berkumpul, kadang terpisah-pisah.

Awan Cirrus

Awan Cirrus
Awan Cirrus merupakan kelompok awan tinggi. Awan ini biasanya terlihat saat cuaca sedang sangat cerah.Bentuknya tipis seperti serabut-serabut halus dan masih bisa ditembus sinar matahari.
Awan Cirrus ini komposisinya dari kristal es. Ketika uap air yang naik ke atas membeku dan menjadi kristal es. Jenis jenis awan Cirrus ini masih dibagi menjadi berbagai macam klasifikasi.

Klasifikasi pertama dibagi menjadi empat, yaitu Cirrus Fibratus, Cirrus Uncinus, Cirrus Densus, dan Cirrus Nothus. Klasifikasi yang kedua dibagi menjadi tiga jenis. Didasarkan WMO spesies, yaitu ada Cirrus Spissatus, Cirrus Castellanus, dan Cirrus Floccus. Diklasifikasi lagi berdasarkan WMO Varietas, ada Cirrus Duplicatus, Cirrus Intortus, Cirrus Radiatus, dan Cirrus Aviaticus.
Editor by : Ludfi Arief Budiman

Apa Yang Salah Pada Sistem Diklatsar Pecinta Alam Indonesia?

“Dilarang mengambil apapun kecuali foto—dilarang meninggalkan apapun kecuali jejak—dilarang membunuh apapun kecuali waktu”

Diklatsar merupakan suatu hal wajib dan syarat rekruitmen awal bagi para calon anggota yang akan masuk suatu komunitas organisasi, baik itu Organisasi Pecinta Alam (OPA), Siswa Pecinta Alam (Sispala), maupun Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Namun tidak sedikit yang memandang diklatsar pecinta alam identik dengan kekerasan.

Menilik soal kegiatan alam bebas di Indonesia tentu takkan terpisahkan dari tiga organisasi tertua, yaitu Wanadri (Bandung) dan Mapala Universitas Indonesia yang sama-sama lahir pada 1964, dan kemudian pada tahun 1967 berdiri pula Aranyacala Universitas Trisakti (Jakarta).

Perbedaan metode diklatsar yang diterapkan adalah otoritas penuh dari setiap organisasi pecinta alam. Ini karena memang tidak ada standar baku perekutan yang diterapkan di Indonesia. Mayoritas memang menolak adanya penyamaan pola pendidikan, dengan alasan organisasi pecinta alam bukan seperti organisasi yang lain yang mengandalkan sistem organisasi top down yang mempunyai kepengurusan dari pusat ke daerah sampai ranting seperti halnya Pramuka dan organisasi pemerintah lainnya.
Namun ada baiknya untuk sejenak instropeksi diri sendiri, benarkah sistem diklatsar pecinta alam sudah bagus? Masih relevankah sistem diklatsar yang digunakan? Kalau memang sudah sesuai mengapa justru dewasa ini peminatnya semakin sedikit? Kenapa setelah menjadi anggota ternyata justru malas mengelola organisasi? Apa penyebab hilangnya loyalitas dan dedikasi anggota? Mengapa easa solidaritas sesama penggiat alam bebas mulai luntur? Tentu masih banyak lagi pertanyaan yang masih belum dapat terjawab.

Paradigma pecinta alam zaman dulu, dengan pecinta alam zaman sekarang terlihat sangat berbeda. Dulu setiap anggota merasa puas dan bangga mengenakan seragam dan syal pasca berhasil melalui tantangan diklatsar (the winner from the challenger). Setelah resmi menjadi anggota muda, mereka turut membangun dan bersikap loyal terhadap organisasi tanpa merasa adanya tekanan.

Para penggiat olahraga alam bebas saat ini masih memiliki rasa solidaritas dan loyalitas, baik antar individu maupun antar sesama organisasi. Hanya kini prosentase empati dan rasa kepeduliannya antar individu maupun kelompok telah begitu menurun jauh. Tentu ini harus menjadi instropeksi bersama.

Rasanya sudah waktunya melakukan penyegaran pada sistem rekruitment anggota dengan lebih mengedepankan visi ruang belajar berkelanjutan sesuai dengan paradigma era teknologi saat ini.

"Sesungguhnya mental dan pengetahuan itu takkan pernah di dapat dari aksi pelocoan dan diklat sesaat, sebab saya percaya semua itu akan terbentuk seiring waktu dari pemahaman secara utuh dan edukasi yang benar". - Ludfi Arief Budiman -

Status quo yang ditujukan kepada para senioritas tak jarang malah menciptakan pola hierakis ala militerisasi. Tiba waktunya untuk mengedepankan pemahaman dan edukasi dunia olahraga alam bebas secara utuh, demi meraih prestasi terbaik untuk Indonesia.

Jangan jadikan diklatsar sebagai ajang pamer, ajang kekerasan, apalagi sampai mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.

Belajar Mengenal Secara Umum Pengetahuan Kegiatan Alam

Persiapan umum untuk suatu kegiatan alam bebas meliputi dari kesiapan mental, fisik, budaya, etika, pengetahuan dan ketrampilan.

Kesiapan mental
Mental amat berpengaruh besar terhadap semangat dan daya juang individu atau team dalam menyelesaikan misi atau tujuan yang hendak di capai.

Kesiapan fisik
Beberapa latihan fisik yang misalnya :
Stretching (sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga), Jogging (lari pelan-pelan, lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan, tetapi jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu ke waktu. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up. Lakukan sesuai kemampuan dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.

Kesiapan administrasi
Mempersiapkan seluruh prosedur perijinan sesuai SOP yang berlaku untuk dapat memasuki wilayah tujuan kegiatan yang telah di rencanakan.

Kesiapan pengetahuan dan ketrampilan
Pengetahuan untuk dapat bertahan hidup di alam bebas merupakan kemampuan syarat dasar wajib bagi penggiat alam bebas. Meliputi pengetahuan tentang (IMPK) Ilmu Medan Peta Kompas, Survival serta EMC [Emergency Medical Care] praktis.

Perencanan
Hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari informasi. Untuk mendapatkan data-data, dapat memperoleh dari literatur- literatur yang berupa buku-buku atau artikel-artikel, atau dari orang-orang yang pernah melakukan pendakian pada objek daerah yang akan di jelajahi.

Tidak salah juga bila meminta informasi dari penduduk setempat atau siapa saja yang mengerti tentang gambaran medan lokasi yang akan didaki.

Rencana Operasi Perjalanan (ROP)
Buatlah perencanaan secara detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu dibawa, perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta prosedur pengurusan ijin mendaki didaerah tersebut.

Buatlah ROP secara teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian kerja, tentukan kapan waktu makan, istirahat, dan sebagainya.

Dalam sebuah perencanaan, perhatikan :
  • Mengenali kemampuan diri dalam tim dalam menghadapi medan.
  • Mempelajari medan yang akan ditempuh.
  • Teliti rencana pendakian dan rute yang ditempuh secermat mungkin.
  • Pikirkan waktu yang digunakan dalam pendakian.
  • Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa.
  • Perlengkapan dasar perjalanan
  • Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas hujan, dll.
  • Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda, matras dll.
  • Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek dll.
  • Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat pribadi, sikat, toilet paper / tissu, dll.
  • Ransel / carrier.
  • Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas, Obat-obatan.
  • Peta, busur derajat, douglass protector, pengaris, pensil dll.
  • Alat komunikasi (Handy talky), survival kit, GPS [kalo ada]
  • Jam tangan.
Packing perlengkapan kedalam carrier.
Kelompokkan barang barang sesuai dengan jenis jenisnya. Masukkan dalam kantong plastik atau dry bag. Letakkan barang barang yang ringan dan jarang dipakai, misalnya : perlengkapan tidur letakkan pada yang paling dalam. Barang barang yang sering digunakan dan vital letakkan sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil. Tempatkan barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / punggung. Dan jangan lupa buat checklist barang barang tersebut.

Jenis Gunung dan Grade Pendakian Indonesia :
Pada garis besar gunung di tanah air terbagi menjadi dua, yaitu gunung strato vulconologi dan non volcanologi.

Berdasar bentuknya dibagi menjadi :
  • Gunung berapi perisai (Gunung berapi lava) - seperti perisai
  • Gunung berapi strato
  • Gunung berapi maar - Gunung berapi yang meletus sekali dan segala aktivitas vulkanisme terhenti, yang tinggal hanya kawahnya saja.
Macam dan tingkat pendakian gunung macam pendakian, yaitu pendakian gunung bersalju (es) dan gunung batu. Keduanya membutuhkan persiapan dan perlengkapan yang matang.
Menurut Club “Mountaineers”, Seatle Washington, dasar pembagian tingkat pendakian ada dua cara.

Berdasar penggunaan alat teknis yang dipakai (class)
  • class 1 : lintas alam tanpa bantuan tangan
  • class 2 : dibutuhkan bantuan tangan
  • class 3 : pendakian yang mudah memerlukan kaki dan tangan dalam mendaki, tali mungkin dibutuhkan oleh pemula
  • class 4 : pendakian memerlukan tali pengaman
  • class 5 : dibutuhkan tali dan pengaman peralatan lain seperti : piton, runner, chocks dll
  • class 6 : mendaki dengan tali dengan peralatan bantuan sepenuhnya berpijak diatas paku tebing, memanjat sling atau stirupss
Pendakian class 4 masuk dalam katagori scrambling (Mendaki dengan cara mempergunakan badan sebagai keseimbangan serta tangan untuk berpegangan dengan medan yang miring sampai 45 derajat), dan class 5 – 6 sudah dapat dikatagorikan sebagai climbing (panjat).
Dimana class 5 merupakan free-climbing (Pemanjatan dengan tanpa menggunakan alat tehnis untuk menambah ketinggian, disini alat hanya sebagai pengaman saja).
Class 6 adalah artificial climbing (Pemanjatan dengan menggunakan alat tehnis sebagai pembantu menambah ketinggian, misalnya dipijak atau disentak dan dipegang ).

Apa bila dilakukan di gunung batu / cadas disebut rock climbing dan bila dilakukan di gunung es disebut dengan snow and ice climbing . Ulasan mengenai hal ini dibahas dalam materi tersendiri.

Berdasar lama waktu akibat sukarnya pendakian (grade)
  • grade I : dapat ditempuh dalam beberapa jam
  • grade II : dapat ditempuh dalam setengah hari
  • grade III : dapat ditempuh dalam sehari penuh
  • grade IV : dapat ditempuh dalam sehari penuh dan memerlukan bantuan lereng-lereng sempit untuk bisa naik
  • grade V : dapat ditempuh dalam waktu 1,5-2,5 hari
  • grade VI : dapat ditempuh dalam waktu 2 hari atau lebih dan dengan banyak sekali kesulitan
Berdasarkan tingkat kemanan pemanjat dari kemampuan alat
  • A1 : aman sekali, peralatan yang dipasang dan digunakan dapat diandalkan untuk menjaga keselamatan pendaki.
  • A2 : aman, jikapun terjadi maslah, alat masih dapat diandalkan untuk mencegah akibat yang lebih fatal.
  • A3 : penggunan alat pengaman cukup aman tetapi tidak dapat diandalkan untuk menjaga resiko jatuh, kecuali dengan pemasangan teliti dan fall-faktor yang tidak terlalu berbeban tinggi. Bila fall faktor tinggi, maka alat-alat akan copot dan pendaki bisa berakibat fatal.
  • A4 : pengaman yang digunakan tidak dapat diharapkan untuk dapat menahan beban jatuh, cenderung hanya sebagai pengaman psykologis untuk menguatkan mental pendaki.
Berdasarkan tingkat kesulitan medan
Tingkatan pedakian dengan dasar perhitungan ini bisa disebut juga dengan Yossemite Decimal System (YDS). Peng-katagorian berasal dari USA dan saat ini banyak di gunakan untuk menentukan grade kesulitan panjat tebing. Oleh karena itu YDS dimulai dengan grade 5 dan seterusnya.

Pengkatagorian demikian biasanya digunakan untuk jenis pendakian free-climbing atau free-soloing (Memanjat sendiri tanpa alat bantu dan pengaman apapun, biasanya pada jalur pendek)

Logistik Pendakian
Makanan yang dibawa seharusnya dapat memenuhi kebutuhan energi. Selama pendakian seseorang membutuhkan sekitar 5.000 kalori dan 100 gram protein, dan untuk kalori dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi nasi.

Namun ada baiknya hanya memakan nasi satu kali sehari di kala malam, alasannya beras realtif berat dan memerluakan waktu lama untuk memasak serta menghabiskan banyak bahan bakar. Fungsi beras sendiri dapat digantikan dengan roti, biskuit, coklat, dan hevermit.
ram zat gizi karbohidrat menghasilkan 4 kalori, lemak 9 kalori dan protein 4 kalori. Agar zat–zat gizi tersebut dapat digunakan didalam tubuh dengan sempurna, harus diatur komposisinya sbb :
  • Protein : 12%-15%
  • Lemak : 20%-25%
  • Karbohidrat 60%-70%
Misal :
Kebutuhan energi adalah 3.500 kalori maka susunan/komposisi gizi-nya adalah sebagai berikut :

Penjelasan :
  • Kalori dari protein = 15% x 3.500 kalori = 525 kalori
  • Protein 1 gram = 4 kalori
  • Jumlah protein = 525 : 4 = 131.3 gram
  • Kalori dari lemak = 25% x 3.500 kalori = 875 kalori
  • Lemak 1 gram = 9 kalori
  • Jumlah lemak = 875 : 9 = 97.2 gram
  • Kalori dari karbohidrat = 60% x 3.500 kalori = 2100 kalori
  • Karbohidrat 1 gram = 4 kalori
  • Jumlah karbohidrat = 2100 : 4 = 525 gram
Hal yang perlu diperhatikan hindari mengkonsumsi makanan yang harus dimasak lebih dahulu selama mendaki, karena hal ini hanya akan merepotkan dan menghabiskan waktu perjalanan. Pilihlah makanan praktis seperti coklat, roti, agar-agar, buah-buahan, dapat juga dibuat mixfood yang terdiri atas kacang, coklat, biskuit dan kismis.
Nutrisi yang buruk atau pas-pasan dapat mengurangi daya tahan (endurance), membuat otot sulit recovery dan membatasi kemampuan tubuh untuk memperbaiki sel-selnya setelah satu hari penuh kerja keras melakukan aktivitas alam bebas.

Ujung-ujungnya akan mempengaruhi moral dan skill dari pendaki itu sendiri. Karenanya penting sekali kita sadar akan perlunya karbohidrat, protein dan lemak serta komponen nutrisi lainnya supaya tubuh tetap fit selama pendakian.

Umumnya makanan yang paling praktis dibawa adalah makanan instan yang memiliki kemasan, buanglah kemasan karton sebelum dimasukan dalam ransel dengan demikian berat ransel dapat berkurang dan makanan yang dibawapun tidak banyak memakan tempat didalam ransel.

Peralatan lain
Selain peralatan dan sejumlah perlengkapan, jangan lupa membawa perlengkapan kecil yang terkadang dirasa sepele, namun amat penting. Perlengkapan itu berupa obat-obatan seperti pelester, obat merah, tisu basah dan kering, senter, benang, jarum jahit, jam dan alat tulis. Peralatan itu terkandang dibutuhkan dalam keadaan darurat, dan atau menjaga tubuh tetap bersih.

Hal terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah membawa kantong plastik, tas plastik tersebut dibutuhkan untuk menaruh barang-barang kotor dan basah, tas plastik juga berfungsi untuk membawa kembali sampah pendakian.

Sampah jangan dibuang begitu saja di alam. Selain mengotori alam, membuang sampah dapat menyulitkan usaha pencarian dan pertolongan bagi pendaki yang tersesat atau mengalami kecelakaan, kerap kali usaha pencarian survivor terbantu dengan petunjuk dari barang-barang yang tercecer.

Sekilas Mengenai Misi SAR Gunung Hutan Indonesia

SAR Gunung Hutan merupakan salah satu ilmu yang sangat bermanfaat, khususnya bagi penggiat olahraga alam bebas. Seperti di negara Amerika Serikat, telah menjadi ilmu Explorer Search And Rescue (ESAR).

Diantaranya adalah tentang mempelajari usaha pencarian dan penyelamatan jiwa manusia atau sesuatu yang sifatnya berharga yang telah dinyatakan atau di kuatirkan hilang pada suatu medan yang tidak dikenal (Wilderness Area), seperti gunung, hutan, gurun pasir, rawa, hamparan es, sabana, dsb.

Dalam kasus orang hilang di gunung hutan tak jarang terdengar celutukan “Biarkan saja, nanti mereka juga akan pulang sendiri”.

Umumnya celoteh miring tersebut ditujukan kepada seseorang yang sering melakukan aktivitas kegiatan di alam bebas. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah, tapi tentu juga tidak dapat dibenarkan.

Memang survivor yang berpengalaman terkadang berhasil mengatasi kesulitan yang di hadapi. Akan tetapi bila tidak, ini nanti akan menyulitkan penyelamatan.

Titik terakhir di mana survivor di ketahui keberadaannya menjadi titik awal untuk dapat menentukan area pencarian yang potensial. Walaupun tidak menutup kemungkinan hal tersebut menjadi langkah awal yang salah.

Meski begitu metode titik awal tetap menjadi langkah terbaik untuk mencegah meluasnya area pencarian. Dengan logika semakin sempit suatu area pencarian, maka akan semakin mempermudah dan membatasi sebuah tindakan dalam operasi Misi SAR.
Apabila seorang survivor mempunyai waktu untuk dapat menempuh jarak 10 km, maka jarak pencarian akan meluas menjadi 314 km2. Dalam medan tertentu dimana 1 km2 area pencarian, tak jarang timbul masalah dalam menyiapkan sejumlah SRU (Search Rescue Unit) yang dibutuhkan untuk melakukan penyisiran area seluas itu.

Tingkat kesulitan dalam suatu operasi Misi SAR grafiknya akan semakin meningkat cepat sampai survivor telah benar-benar tidak mampu bergerak lagi. Setelah itu grafiknya meningkat sedikit lagi baru mendatar.
Biasanya survivor yang sudah tidak mampu bergerakan lagi, masih dapat berteriak atau memberi respon atas upaya penyelamatan. Namun apabila survivor telah kehilangan kesadaran atau bahkan meninggal, tentu keadaan tersebut akan menjadi faktor kesulitan lain dalam strategi Operasi Misi SAR yang dilakukan.

Posedur Resusitasi Jantung Paru "CPR"

Resusitasi jantung paru adalah suatu aksi tindakan pertolongan yang dilakukan kepada korban yang mengalami henti napas dan henti jantung. Keadaan ini bisa disebabkan karena korban mengalami serangan jantung (heart attack), tenggelam, tersengat arus listrik, keracunan, kecelakaan dan lain-lain.

Pada kondisi napas dan denyut jantung berhenti, maka sirkulasi darah dan transportasi oksigen akan berhenti, sehingga dalam waktu singkat organ-organ tubuh terutama organ fital akan mengalami kekurangan oksigen yang berakibat fatal bagi korban dan mengalami kerusakan. Organ yang paling cepat mengalami kerusakan adalah otak, karena otak hanya akan mampu bertahan jika ada asupan gula/glukosa dan oksigen. Jika dalam waktu lebih dari 10 menit otak tidak mendapat asupan oksigen dan glukosa maka otak akan mengalami kematian secara permanen.

Kematian otak berarti pula kematian si korban. Oleh karena itu Golden Period (waktu emas) pada korban yang mengalami henti napas dan henti jantung waktunya adalah dibawah 10 menit. Artinya dalam watu kurang dari 10 menit penderita yang mengalami henti napas dan henti jantung harus sudah mulai mendapatkan pertolongan. Jika tidak, maka harapan hidup si korban sangat kecil. 
Adapun pertolongan yang harus dilakukan pada penderita yang mengalami henti napas dan henti jantung adalah dengan cara melakukan resusitasi jantung paru / CPR.
Berdasarkan konvensi American Heart Association (AHA) terbaru pada tanggal 18 Oktober 2010, Prosedur CPR terbaru adalah sebagai mana berikut :
Kewaspadaan Terhadap Bahaya [Danger]
  • Penolong mengamankan diri sendiri dengan memakai alat proteksi diri (APD). ALat proteksi yang paling dianjurkan adalah sarung tangan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari korban kepada penolong.
  • Selanjutnya penolong mengamankan lingkungan dari kemungkinan bahaya lain yang mengancam, seperti adanya arus listrik, ancaman kejatuhan benda (falling object),
  • Setelah penolong dan lingkungan aman maka selanjutnya meletakan korban pada tempat yang rata, keras, kering dan jauh dari bahaya.
Cek Respons / Penilaian Kesadaran
  • Cek kesadaran korban dengan memanggil dan menepuk bahunya.
  • Jika dengan memanggil dan menepuk tidak ada respos, maka lakukan pengecekan kesadaran dengan melakukan Rangsangan Nyeri. lakukan rangsang nyeri dengan menekan tulang dada korban dengan cara penolong menekuk jari-jari tangan kanan, lalu tekan dengan sudut ruas jari-jari tangan yang telah ditekuk.
  • Jika tidak ada respon dengan rangsangan nyeri berarti korban tidak sadar dan dalam kondisi koma.

Panggil Bantuan / Call For Help
  • Jika korban tidak berespons selanjutnya penolong harus segera memanggil bantuan baik dengan cara berteriak, menelepon, memberi tanda pertolongan (SOS) dan cara lainya.
  • BERTERIAK : Memanggil orang disekitar lokasi kejadian agar membantu pertolongan atau disuruh mencari pertolongan lebih lanjut. Jika ada AED (Automatic External Defibrilation) maka suruh penolong lain untuk mengambil AED.
  • MENELEPON : menghubungi pusat bantuan darurat (emergency call number) sesuai dengan nomor dilokasi / negara masing-masing. Seperti : 911, 118, 112, 113, 999, 000, 555 dan lain-lain.
  • EMERGENCY SIGNAL : dengan membuat asap, kilauan cahaya, suar dan lain-lain jika lokasi ada didaerah terpencil.
Cek Nadi
  • Pengecekan nadi korban dilakukan untuk memastikan apakah jantung korban masih berdenyut atau tidak.
  • Pada orang dewasa pengecekan nadi dilakukan pada nadi leher (karotis) dengan menggunakan 2 jari. Caranya letakan 2 jari tangan pada jakun (tiroid) kemudian tarik ke arah samping sampe terasa ada lekukan rasakan apakah teraba atau tidak denyut nadi korban.
  • Pada bayi pengecekan nadi dilakukan pada lengan atas bagian dalam. Dengan menggunakan 2 jari rasakan ada tidaknya denyut nadi pada lengan atas bagian dalam korban.
  • Jika nadi tidak teraba berarti korban mengalami henti jantung, maka segera lakukan penekanan / kompresi pada dada korban.
  • Jika nadi teraba berarti jantung masih berdenyut maka lanjutkan dengan membukaan jalan napas dan pemeriksanaan napas.
Kompresi Dada
  • Jika korban tidak teraba nadinya berarti jantungnya berhenti berdenyut maka harus segera dilakukan penekanan / kompresi dada sebanyak 30 kali.
  • Caranya : posisi penolong sejajar dengan bahu korban. Letakan satu tumit tangan diatas tulang dada, lalu letakan tangan yang satu lagi diatas tangan yang sudah diletakan diatas tulang dada. Setelah lalu tekan dada korban denga menjaga siku tetap lurus.
  • Tekan dada korban sampai kedalaman sepertiga dari ketebalan dada atau 3-5 cm / 1-2 inci (korban dewasa), 2-3 cm (Pada anak), 1-2 cm (bayi)
Buka Jalan Napas
  • Setelah melakukan kompresi selanjutnya membuka jalan napas.
  • Buka jalan napas dengan menengadahkan kepala korban.
  • Pada korban trauma yang dicurigai mengalami patah tulang leher melakukan jalan napas cukup dengan mengangkat dagu korban.
Memberikan Napas Buatan
  • Jika korban masih teraba berdenyut nadinya maka perlu dilakukan pemeriksaan apakah masih bernapas atau tidak. Pemeriksaaan pernapasan dilakukan dengan Melihat ada tidaknya pergerakan dada (LOOK), mendengarkan suara napas (LISTEN) dan merasakan hembusan napas (FEEL).
  • Jika korban berdenyut jantungnya tetapi tidak bernapas maka hanya diberikan napas buatan saja sebanyak 12-20 kali per menit.
  • Jika korban masih berdenyut jantungnya dan masih bernapas maka korban dimiringkan agar ketika muntah tidak terjadi aspirasi.
  • Korban yang berhenti denyut jantungnya / tidak teraba nadi maka tidak perlu dilakukan pemeriksaan pernapasan karena sudah pasti berhenti napasnya, penolong setelah melakukan kompresi dan membuka jalan napas langsung memberikan napas buatan sebanyak 2 kali.

Evaluasi
  • Evaluasi pada CPR dilakukan setiap 5 Siklus. (5 x 30 kompresi) + (5 x 2 napas buatan)
  • Evaluasi pada pemberian napas buatan saja dilakukan setiap 2 menit
Catatan :
Untuk melakukan CPR sebaiknya seorang penolong harus rutin berlatih dan berkonsultasi dengan mereka yang paham dengan medis.